Ketika AI Mulai Berpikir untuk Mahasiswa

Oleh : Yan Mitha Djaksana

Seorang mahasiswa kini dapat menyelesaikan tugas yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam hanya dalam beberapa menit. Ia cukup mengetikkan pertanyaan, menjelaskan topik, atau mengunggah dokumen, lalu sebuah sistem kecerdasan buatan menyajikan jawaban yang rapi, sistematis, bahkan dilengkapi dengan argumentasi.

Di satu sisi, ini adalah kemajuan luar biasa. Mahasiswa memiliki tutor digital yang dapat diakses kapan saja. Mereka dapat meminta penjelasan ulang terhadap konsep yang sulit, mencari ide penelitian, memperbaiki struktur tulisan, menerjemahkan bahan bacaan, hingga membantu memahami data.

Namun, ada satu pertanyaan yang semakin penting untuk diajukan di ruang-ruang perguruan tinggi: ketika AI semakin mampu mengerjakan tugas mahasiswa, sebenarnya apa yang masih sedang dipelajari oleh mahasiswa?

Pertanyaan ini bukan untuk mengajak kita memusuhi AI. Sebaliknya, justru karena AI sudah menjadi bagian dari kehidupan akademik, kita perlu lebih serius memikirkan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Survei Digital Education Council terhadap 3.839 mahasiswa di 16 negara pada 2024 menunjukkan bahwa 86 persen mahasiswa telah menggunakan AI dalam studi mereka, sementara 54 persen menggunakannya setiap minggu. Menariknya, lebih dari separuh responden juga merasa belum memiliki pengetahuan dan keterampilan AI yang memadai.

Artinya, kita sedang menghadapi paradoks. Mahasiswa semakin sering menggunakan AI, tetapi belum tentu semakin mampu memahami AI.

Lebih jauh lagi, persoalannya bukan sekadar literasi AI. Yang perlu kita khawatirkan adalah munculnya ketergantungan.

Dari alat bantu menjadi jalan pintas

Dalam sejarah pendidikan, manusia selalu menggunakan alat untuk memperluas kemampuan berpikir. Kalkulator membantu menghitung. Mesin pencari membantu menemukan informasi. Buku membantu menyimpan pengetahuan. Komputer membantu mengolah data.

AI juga seharusnya berada dalam kerangka tersebut.

Masalah muncul ketika alat bantu berubah menjadi jalan pintas.

Mahasiswa yang menggunakan AI untuk meminta penjelasan tentang sebuah teori tentu berbeda dengan mahasiswa yang meminta AI mengerjakan seluruh tugas tentang teori tersebut. Mahasiswa yang meminta AI memberikan kritik terhadap argumennya berbeda dengan mahasiswa yang menyerahkan seluruh proses penyusunan argumen kepada mesin.

Perbedaannya mungkin terlihat kecil. Namun secara pendidikan, perbedaannya sangat besar.

Sebab pendidikan tinggi bukan sekadar menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan tinggi seharusnya membentuk kemampuan seseorang untuk bertanya, menganalisis, meragukan, membandingkan, menyimpulkan, dan mempertanggungjawabkan pikirannya sendiri.

Jika proses tersebut seluruhnya diserahkan kepada AI, mahasiswa mungkin mendapatkan tugas yang selesai, tetapi belum tentu mendapatkan pembelajaran.

Inilah titik yang sering luput dalam perdebatan tentang AI di kampus.

Kita terlalu sibuk bertanya, “Apakah mahasiswa boleh menggunakan ChatGPT?”

Padahal pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Untuk bagian mana dari proses berpikir mahasiswa AI boleh digunakan, dan untuk bagian mana manusia harus tetap mengambil kendali?”

Jangan salahkan mahasiswa sepenuhnya

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan mahasiswa sebagai satu-satunya pihak yang harus disalahkan.

Jika hampir semua tugas dapat diselesaikan oleh AI, mungkin masalahnya bukan hanya pada mahasiswa yang menggunakan AI. Bisa jadi kita juga perlu mengevaluasi kembali cara kita memberikan tugas dan melakukan penilaian.

Tugas yang jawabannya dapat ditemukan dengan mudah melalui mesin pencari memang semakin mudah diserahkan kepada AI. Esai yang hanya meminta mahasiswa menjelaskan definisi suatu konsep juga relatif mudah dihasilkan oleh mesin.

Karena itu, mungkin sudah saatnya perguruan tinggi menggeser desain pembelajaran.

Bukan berarti semua tugas harus menjadi lebih sulit. Justru tugas harus menjadi lebih bermakna.

Mahasiswa dapat diminta mengkritisi persoalan nyata di lingkungannya, melakukan observasi, membandingkan teori dengan kondisi lapangan, mempertahankan argumennya dalam diskusi, melakukan refleksi terhadap proses berpikirnya, atau menjelaskan mengapa ia menerima atau menolak jawaban yang diberikan AI.

Dengan demikian, AI boleh menghasilkan teks. Tetapi mahasiswa tetap harus menghasilkan pemikiran.

AI tidak seharusnya menjadi “otak kedua” yang menggantikan otak pertama

UNESCO dalam panduannya mengenai generative AI menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia, termasuk pentingnya menjaga agensi manusia, berpikir kritis, etika, keamanan, dan penggunaan AI yang bermakna dalam pendidikan.

Pesan ini penting.

Masa depan pendidikan bukanlah pertarungan antara manusia dan AI.

Pertanyaannya bukan apakah mahasiswa harus menggunakan AI atau tidak. Hampir tidak mungkin kita meminta generasi yang akan memasuki dunia kerja untuk mengabaikan teknologi yang justru akan menjadi bagian dari kehidupan profesional mereka.

Yang harus kita bangun adalah kemampuan untuk bekerja bersama AI tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir tanpa AI.

Ini dua hal yang berbeda.

Mahasiswa harus mampu mengatakan:

“Saya menggunakan AI untuk membantu saya berpikir.”

Bukan:

“Saya berpikir setelah AI memberikan jawabannya.”

Perbedaan kalimat tersebut mungkin sederhana, tetapi akan menentukan kualitas sumber daya manusia kita di masa depan.

Kampus harus mengubah cara mendidik

Kehadiran AI seharusnya menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk melakukan refleksi yang lebih besar.

Jika sebuah tugas dapat diselesaikan AI dalam beberapa detik, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya perilaku mahasiswa, tetapi relevansi tugas tersebut.

Jika sebuah ujian dapat dijawab AI, mungkin metode evaluasinya yang harus diperbaiki.

Jika mahasiswa lebih memilih bertanya kepada AI daripada kepada dosen, mungkin kita perlu memahami apa yang sebenarnya mereka butuhkan dalam proses belajar.

Kampus tidak cukup hanya membuat aturan “boleh” dan “tidak boleh” menggunakan AI. Aturan tetap diperlukan untuk menjaga integritas akademik, tetapi aturan saja tidak akan menyelesaikan persoalan.

Yang lebih penting adalah membangun AI literacy dan human literacy secara bersamaan.

AI literacy membuat mahasiswa memahami bagaimana menggunakan teknologi secara efektif, mengevaluasi keluaran AI, mengenali bias dan kesalahan, menjaga privasi, serta memahami batasannya.

Sementara human literacy memastikan mahasiswa tetap memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, empati, etika, kepemimpinan, dan kemampuan mengambil keputusan.

Sebab semakin cerdas mesin, semakin penting kualitas manusia yang menggunakannya.

Jangan sampai kita menghasilkan generasi yang pintar menggunakan AI, tetapi tidak mampu berpikir tanpanya

Inilah tantangan terbesar pendidikan tinggi.

Kita tidak membutuhkan generasi yang sekadar mahir membuat prompt. Kita membutuhkan generasi yang memahami mengapa mereka bertanya, apa yang mereka cari, bagaimana menilai jawabannya, dan apa yang akan mereka lakukan terhadap informasi tersebut.

AI dapat menghasilkan seribu jawaban. Tetapi pendidikan tetap harus mengajarkan mahasiswa bagaimana menentukan jawaban mana yang layak dipercaya.

AI dapat membantu membuat tulisan. Tetapi pendidikan harus memastikan mahasiswa memiliki sesuatu untuk dikatakan.

AI dapat membantu menyusun argumentasi. Tetapi mahasiswa harus tetap mampu mempertanggungjawabkan argumentasi tersebut.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan tinggi bukanlah tentang seberapa banyak AI yang dapat kita masukkan ke dalam kelas. Ukurannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit:

Apakah setelah menggunakan AI, mahasiswa menjadi lebih mampu berpikir atau justru semakin malas berpikir?

Jika jawabannya yang kedua, maka persoalannya bukan lagi teknologi.

Persoalannya adalah pendidikan yang gagal menjaga manusia tetap berada di pusat proses belajar.

AI boleh menjadi asisten. Boleh menjadi tutor. Boleh menjadi co-pilot. Bahkan boleh menjadi mitra intelektual.

Tetapi jangan sampai ia menjadi pengganti pikiran.

Sebab universitas tidak dibangun hanya untuk menghasilkan manusia yang mampu menemukan jawaban.

Universitas dibangun untuk menghasilkan manusia yang mampu mempertanyakan jawaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *