Penulis: Willis Puspita Sari, S.Si., M.Kom.
Prodi: Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer
Setiap kali membuka media sosial, kita merasa menjadi orang yang paling bebas di dunia. Kita bebas memilih video mana yang ingin ditonton, berita mana yang ingin dibaca, akun siapa yang ingin diikuti, dan konten mana yang ingin dilewati. Tinggal geser layar, lalu muncul lagi konten berikutnya.
Kita sering menganggap semua itu sebagai pilihan pribadi.
Tetapi, benarkah demikian?
Coba perhatikan kebiasaan kita. Ketika beberapa kali menonton video tentang olahraga, tidak lama kemudian beranda dipenuhi konten olahraga. Ketika kita sering melihat konten politik, pembahasan politik akan semakin sering muncul. Bahkan ketika kita hanya sekali tertarik pada sebuah produk, tiba-tiba iklan produk serupa muncul berkali-kali.
Kebetulan? Tidak juga.
Ada algoritma yang bekerja di belakang layar.
Algoritma media sosial mempelajari perilaku kita. Apa yang kita tonton, berapa lama kita menonton, apa yang kita sukai, komentar yang kita tulis, akun yang kita ikuti, sampai konten yang kita lewati. Semua itu menjadi semacam “jejak” yang digunakan platform untuk menebak apa yang kemungkinan besar akan menarik perhatian kita.
Masalahnya, kita sering tidak sadar bahwa setiap aktivitas kecil di media sosial sedang mengajari algoritma tentang diri kita.
Kita mengira sedang menggunakan media sosial. Padahal, pada saat yang sama, media sosial juga sedang mempelajari dan membentuk kebiasaan kita.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius.
Algoritma pada dasarnya dirancang untuk membuat kita betah. Semakin lama kita berada di dalam aplikasi, semakin banyak konten yang bisa kita lihat dan semakin banyak iklan yang bisa ditampilkan kepada kita. Karena itu, konten yang membuat kita penasaran, tertawa, marah, takut, atau bahkan tersinggung mempunyai peluang besar untuk terus muncul.
Tidak heran jika kita sering berniat membuka media sosial hanya selama lima menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu setengah jam atau bahkan lebih.
Kita bukan hanya sedang mencari hiburan. Kita sedang berada di dalam sebuah sistem yang dirancang untuk mempertahankan perhatian kita.
Persoalannya semakin rumit ketika algoritma mulai menentukan jenis informasi yang kita konsumsi.
Bayangkan seseorang setiap hari hanya melihat konten yang sesuai dengan pandangannya. Jika ia menyukai satu jenis pendapat, algoritma akan terus memberinya konten serupa. Lama-kelamaan, ia bisa merasa bahwa pendapat tersebut adalah pendapat mayoritas.
Ketika muncul pandangan yang berbeda, ia merasa heran. Bahkan bisa langsung marah.
Padahal, mungkin bukan dunia yang tiba-tiba berubah. Bisa jadi hanya berandanya yang berubah.
Inilah yang sering disebut sebagai ruang gema atau echo chamber. Kita seperti berada di sebuah ruangan yang terus memantulkan suara yang sama. Apa yang kita percaya semakin sering kita dengar, sehingga terasa semakin benar.
Di titik ini, media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat mendapatkan informasi. Ia ikut menentukan informasi seperti apa yang kita temui setiap hari.
Lebih berbahaya lagi, sesuatu yang sering muncul di media sosial mudah dianggap sebagai sesuatu yang penting. Padahal, sering muncul bukan berarti benar. Banyak dibagikan bukan berarti berkualitas. Viral bukan berarti memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan informasi yang tidak viral.
Kita harus mulai membedakan antara apa yang penting dan apa yang sengaja dibuat menarik perhatian.
Sayangnya, budaya media sosial hari ini sering membuat kita melakukan hal sebaliknya. Kita melihat judul, langsung percaya. Melihat potongan video, langsung mengambil kesimpulan. Melihat banyak orang berkomentar, langsung menganggap informasinya benar.
Kita terlalu cepat bereaksi dan terlalu malas memeriksa.
Di sinilah pengguna media sosial juga harus melakukan introspeksi.
Jangan semua kesalahan diberikan kepada algoritma. Algoritma memang memiliki pengaruh besar, tetapi kita tetap memiliki tanggung jawab atas apa yang kita konsumsi dan sebarkan.
Kalau kita terus memberikan perhatian kepada konten yang provokatif, algoritma akan belajar bahwa itulah yang kita sukai. Kalau kita terus menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya, kita ikut memperbesar masalah.
Dengan kata lain, algoritma belajar dari perilaku kita.
Kita sebenarnya memiliki kesempatan untuk “mengajari” algoritma agar memberikan ruang yang lebih beragam. Kita bisa mengikuti akun dari berbagai sudut pandang, membaca media yang berbeda, mencari informasi secara mandiri, dan tidak menjadikan beranda media sosial sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Hal sederhana seperti berhenti sejenak sebelum membagikan sebuah berita juga penting.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah berita ini menarik?”
Tetapi juga, “Apakah berita ini benar?”
Kita juga perlu bertanya, “Mengapa konten ini muncul di beranda saya?” dan “Siapa yang diuntungkan jika saya mempercayai atau membagikan konten ini?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut mungkin terdengar sepele. Namun, justru dari sanalah literasi digital dimulai.
Kita tidak mungkin keluar sepenuhnya dari pengaruh algoritma. Hampir semua platform besar menggunakan sistem rekomendasi. Yang bisa kita lakukan adalah memahami cara kerjanya dan menyadari bahwa beranda media sosial bukanlah cermin sempurna dari kenyataan.
Apa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari dunia yang telah dipilih dan disusun berdasarkan perilaku kita.
Karena itu, jangan sampai kita merasa sedang memilih dengan bebas, padahal pilihan kita sudah diarahkan sedikit demi sedikit.
Kita memang memilih konten. Tetapi algoritma juga memilihkan konten untuk kita.
Yang menentukan apakah kita benar-benar bebas bukanlah seberapa banyak pilihan yang muncul di layar, melainkan seberapa sadar kita ketika memilihnya.
Pada akhirnya, masalah terbesar media sosial bukan hanya soal algoritma yang semakin pintar. Masalah yang lebih besar adalah ketika penggunanya berhenti berpikir kritis.
Jika kita membiarkan algoritma menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita percaya, bahkan siapa yang kita anggap benar dan salah, maka tanpa sadar kita telah menyerahkan sebagian kendali atas cara kita memahami dunia.