Penulis: Fajar alamin
Kabupaten Tangerang – Kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk mengajukan bantuan helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Langkah tersebut diambil setelah upaya pemadaman melalui jalur darat dinilai belum mampu mengendalikan api yang terus membakar tumpukan sampah di area TPA.
Menurut BPBD Kabupaten Tangerang, kondisi medan serta luasnya area yang terbakar menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman. Kobaran api yang berada di bagian dalam timbunan sampah menyebabkan proses pendinginan berlangsung lebih lama dibandingkan kebakaran pada umumnya. Selain itu, tiupan angin dan tingginya suhu udara turut meningkatkan potensi penyebaran api ke area lain.
Permohonan bantuan helikopter diajukan untuk mendukung operasi pemadaman dari udara melalui metode water bombing. Teknik ini dinilai efektif menjangkau titik-titik api yang sulit diakses kendaraan pemadam kebakaran, sekaligus mempercepat proses pengendalian kebakaran pada area yang luas.
Sejak kebakaran terjadi, petugas gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, aparat keamanan, serta relawan terus melakukan upaya pemadaman secara bergantian. Puluhan personel dan armada pemadam dikerahkan untuk mencegah api meluas ke fasilitas maupun permukiman di sekitar lokasi.
Selain memadamkan api, petugas juga memantau dampak asap yang ditimbulkan. Asap pekat dari pembakaran sampah berpotensi mengganggu kualitas udara dan memicu gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma.
Pakar lingkungan menjelaskan bahwa kebakaran di tempat pemrosesan akhir sampah memiliki karakteristik yang berbeda dengan kebakaran biasa. Material organik yang mengalami pembusukan dapat menghasilkan gas metana yang mudah terbakar, sehingga api berpotensi muncul kembali meski bagian permukaan telah dipadamkan. Oleh karena itu, proses pendinginan menyeluruh menjadi langkah penting untuk mencegah titik api kembali menyala.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang lebih modern. Penerapan sistem sanitary landfill, pengurangan volume sampah melalui program daur ulang, serta pengolahan sampah menjadi energi dinilai dapat mengurangi risiko terjadinya kebakaran di tempat pembuangan akhir.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi kebakaran selama proses penanganan berlangsung serta menggunakan masker apabila terdampak asap. Warga juga diminta segera melapor kepada petugas apabila menemukan titik api baru di sekitar kawasan TPA.
Melalui koordinasi antara pemerintah daerah dan BNPB, proses pemadaman diharapkan dapat segera diselesaikan sehingga dampak terhadap lingkungan, kualitas udara, dan aktivitas masyarakat dapat diminimalkan. Kejadian ini sekaligus menjadi evaluasi bagi pengelolaan tempat pemrosesan akhir agar lebih aman dan mampu mengurangi potensi bencana serupa di masa mendatang.